Dalamkomposisinya, Hong Wilaheng Sekaring Bawono (1981), penyanyi Gombloh mengutip sebagian dua sajak yang populer dari Wedhatama (Pangkur, bait I dan XII). Serat Wedhatama dianggap sebagai salah satu puncak estetika sastra Jawa abad ke-19 dan memiliki karakter mistik yang kuat. Bentuknya adalah tembang, yang biasa dipakai pada masa itu.
SeratWedhatama adalah karya sastra dalam bentuk tembang, sebagaimana dinyatakan pada bagian awal buku tersebut yang berbunyi: sinawung resmining kidung, yang artinya: dihias dengan indahnya lagu (tembang). Tembang-tembang dalam Serat Wedhatama dikategorikan dalam jenis tembang macapat. Menurut Suwarno (2008: 4-7) dan Suwardi Endraswara
Bukuini disusun dengan berpedoman pada Peraturan Gubernur tanggal 3 April 2014 No. 19 Tahun 2014. Pergub tersebut memberikan pegangan hukum yang kuat bagi guru-guru untuk melaksanakan dengan sungguh-sungguh pembelajaran bahasa daerah. Sebagai tindak lanjut, buku ini disusun untuk menyelesaikan masalah ketiadakan buku ajar seiring dengan
Maka Bima Arya pun akhirnya menyimpulkan, tidak ada orang yang besar tanpa cobaan, tanpa rintangan, tanpa masalah. "Anak muda, temukan 'titik balik' kalian." Itulah pesan Bima Arya dalam bukunya. (Lin/M-2) Sumber: Media Indonesia, Minggu, 29 September 2013. Posted by uzk at 8:22 AM.
SERATWEDHATAMA Serat wedhatama ini adalah salah satu serat karangan KGPH Mangkunegara IV, berasal dari dua kata wedha yang berarti ajaran dan tama yang berarti utama, serat ini berisi tentang ajaran-ajaran kebaikan, budi pekerti dan akhlak yang hingga sampai sekarang masih dapat diterapkan dalam kehidupan, serat ini ditulis dalam bentuk tembang
37 Tembang ing ndhuwur iku cuplikan saka serat . a. Wulangreh c. Wedhatama b. Kalatidha d. Bharatayuda 38. Tembang ing ndhuwur anggitane .. a. Sri Sultan HB IX c. Sri Paku Buwana IV b. Sri Mangkunagara IV d. R. Ng. Ranggawarsita 39. Tembang ing ndhuwur ana 9
SeratWedhatama adalah Sastra tembang atau kidungan jawa karya Beliau adalah Ngarsa Dalem Ingkang Wicaksana Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Sri Mangkunegoro IV. Wedatama (berasal dalam bahasa Jawa; Wredhatama) berasal dari dua kata yaitu Weda dan Utama. Seat (tulisan/karya) Weda (Ajaran/ Pengetahuan Suci) tama (keutamaan/utama).
seratwedhatama pupuh pucung pada 11 - 15. 1. SERATWEDHATAMA. 2. KELOMPOKV Adesa Prajna Kesawa (01) AfifahYasmine Damayanti (02) Kusnul Latifah (15) Muhammad Iqbal Daniswar (20) Riana Dewi Nata Sari (29) Riski Nur Saly Ramadhani (30) Ahmad Fajar Abror (35) ANGGOTA. 3.
diselesaikanpenelitian berjudul 11 AJARAN ETIKA DALAM SERAT WEDHA TAl1A DAN RELEVANSINYA DENGAN ETIKA PANCASILA11 β’ Serat Wedhatama, bagian terbesar berisi ajara.n moral baik bagi - golongan muda maupun golongan tua. Ajaran itu menuntun kepadape~ bentukan watak utama. Helalui pemahaman terhadap ajaran Etika
Downloadpresentation. PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI OPTIMALISASI MULOK Oleh : Sri Sulistiani/ UNESA Tlp: 081230559829 1 1. TAWURAN REMAJA 2. REVOLUSI INDUSTRY 4. 0 3. REVOLUSI INDUSTRI RI-I : Dimulai pada abad ke-18, ditandai oleh mekanisasi produksi melalui tenaga uap dan lahirnya kelas proletariat. RI- II.
u918N. Us - Kisi - Utama - SMK found this document useful 0 votes0 views7 pagesOriginal SMK Β© All Rights ReservedShare this documentDid you find this document useful?0% found this document useful 0 votes0 views7 pagesUs - Kisi - Utama - SMK Title SMK to Page You are on page 1of 7 You're Reading a Free Preview Pages 4 to 6 are not shown in this preview. Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime.
Warga Yogyakarta ikut nembang macapat di Pendapa Wiyata Praja Kompleks Kepatihan. foto adnBudaya Jawa memiliki banyak sekali karya sastra. Tak sekedar karya sastra, melainkan sebuah karya yang sarat akan makna filosofis bagi hidup manusia. Salah satunya adalah Serat Wedhatama karya sastra yang diciptakan dalam huruf Jawa dan dibacakan dengan cara tembang alias macapat. Serat Wedhatama diciptakan oleh KGPAA Mangkunegara IV. Menurut KMT Projo Swasono, yang merupakan Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, serat tersebut diciptakan di Kadipaten Mangkunegaran Surakarta. Serat tersebut sangat bagus sebab mengandung banyak ajaran mengenai kehidupan manusia."Itu berisi nasihat-nasihat, larangan-larangan tentang kehidupan manusia," pungkas KMT Projo Swasono yang merupakan Abdi Dalem yang bertugas mengurus sekolah macapat pada Selasa 17/12/2019 di Pendapa Swasono berujar bahwa pada masa zaman dahulu, Serat Wedhatama diciptakan KGPAA Mangkunegara IV untuk memerintah kerabat, abdi dalem, dan kawula di Mangkunegaran. Hingga bertahun-tahun serat tersebut bertahan di budaya masyarakat Jawa, rupanya bukan nilainya semakin kabur melainkan banyak nilai yang masih relevan hingga kini."Ternyata nasihat-nasihat, larangan-larangan itu relevansinya sangat tinggi apabila dilaksanakan masyarakat pada umumnya bahkan sampai sekarang," Serat Wedhatama berupa anjuran, larangan, dan juga perintah. Serat Wedhatama menurut KMT Swasono memiliki banyak sekali tembang. Totalnya ada 11 tembang. Akan tetapi di Dialog Budaya dan Gelar Seni "YogyaSemesta" Khusus Seri-124 kali ini hanya 5 tembang yang dibawakan. Diantaranya yang ditampilkan ialah Pangkur, Sinom, Pocong, Gambu, ada Kinathi."Lima tembang saja. Sementara tembang itu ada 11. Di sini YogyaSemesta hanya 5 saja yang dibawakan," YogyaSemesta membahas tentang Serat Wedhatama melalui tembang macapat. foto BirgitaBerkaitan dengan budaya dan perkembangan zaman, tentunya perkembangan budaya punya andil dalam keberadaan nilai budaya tersebut. Terkadang nilai-nilai luhur budaya salah satunya dalam Serat Wedhatama bisa luntur jika tak ada yang melestarikan di era saat ini. KMT Swasono mengatakan bahwa perlu bagi generasi khususnya di era saat ini untuk kembali memaknai ajaran dalam Serat saat ini tembang yang mulanya hanya ada dalam bahasa Jawa, membuat sebagian peneliti mencoba untuk mengubah ke dalam bahasa latin. Juga dialihbahasakan ke dalam Bahasa Indonesia dengan harapan agar masyarakat kini, terutama generasi era ini bisa memahami makna tanpa terkendala persoalan salah satu upaya pemerintah dalam mempertahankan nilai Serat Wedhatama adalah memperkenalkan melalui salah satu nilai keistimewaan yang diperkenalkan dalam Hamemayu Hayuning Bawono. Pemerintah berusaha untuk mempertahankan nilai tersebut dengan berbagai cara mulai dari memperkenalkan ajaran pada masyarakat dan mempertunjukannya."Tujuan dari pemerintah untuk mengenalkan ajaran-ajaran yang diberikan oleh pendahulu kita. Setelah mengenal, kemudian meresapi, kemudian melakukan nasihat-nasihat itu," ungkapnya.
Pupuh no 5 iki kadadean saka 18 pada yaiku pada 83 nganti pada 100. 83 Mangka kanthining tumuwuh, Salami mung awas eling, Eling lukitaning alam, Dadi wiryaning dumadi, Supadi nir ing sangsaya, Yeku pangreksaning urip. Mangertia modale wong urip, Selawase kudu eling lan waspada Elenga marang kaendahane alam Dadi bukti anane Gusti Kang Maha Kuwasa Supaya manungsa boleh endha saka sengsara. Ngertia karo sing gawe urip.. 84 Marma den taberi kulup, Angulah lantiping ati, Rina wengi den anedya, Pandak panduking pambudi, Bengkas kahardaning driya, Supaya dadya utami.` Maka rajinlah anak-anakku, Membiasakan mengontraskan hati, Siang malam berusaha, merasuk ke internal sanubari, melenyapkan nafsu pribadi, Agar menjadi orang penting. 85 Pangasahe sepi samun, Aywa esah ing salami, Samangsa wis kawistara, Lalandhepe mingis mingis, Pasah wukir reksamuka, Kekes srabedaning khuluk. Mengasahnya di duaja sepi semedi, Jangan berhenti selamanya, Apabila sudah kelihatan, tajamnya luar stereotip, mampu menyayat gunung penghalang, Lenyap semua pengadang budi. 86 Dene tajam penglihatan tegesipun, Weruh warananing urip, Miwah wisesaning tunggal, Kang atunggil rina wengi, Kang mukitan ing sakarsa, Gumelar ngalam sakalir. Tajam mata itu artinya, tahu penghalang umur, serta kekuasaan nan tunggal, yang bersatu siang lilin batik, Yang mengabulkan segala karsa, terhampar tunggul sepenuh. 87 Aywa sembrana ing kalbu, Wawasen wuwus sireki, Ing kono yekti karasa, Dudu ucape pribadi, Marma den sembadeng sedya, Wewesen praptaning uwis. Hati jangan lengah, Waspadailah kata-katamu, Di haud pasti terasa, lain perkataan pribadi, Maka tanggungjawablah, perhatikan semuanya setakat tuntas. 88 Sirnakna semanging kalbu, Den waspada ing pangeksi, Yeku dalaning kasidan, Sinuda saka sethithik, Pamothahing nafsu hawa, Linalantih mamrih titih. Sirnakan keraguan hati, waspadalah terhadap pandanganmu, Itulah caranya berhasil, Kurangilah lambat-laun tekor godaan master nafsu, Latihlah agar terdidik. 89 Aywa mematuh nalutuh, Tanpa tuwas tanpa kasil, Kasalibuk ing srabeda, Marma dipun ngati-ati, Urip keh rencananira, Sambekala den kaliling. Jangan perlu berbuat aib, Tiada guna tiada hasil, terjerat makanya aral, Maka berhati-hatilah, Jiwa ini banyak rintangan, Provokasi harus dicermati. 90 Umpamane wong lumaku, Marga gawat den liwati, Lamun cacat ing pangarah, Sayekti karendhet ing ri. Apese kasandhung padhas, Babak bundhas anemahi. Seumpama orang bepergian, Perkembangan berbahaya dilalui, Apabila kurang anggaran, Tentulah tertusuk duri, celakanya tertubruk batu, Kesannya penuh luka. 91 Lumrah bae yen kadyeku, Atetamba peso wus bucik, Duweya kawruh sabodhag, Yen tan nartani ing kapti, Dadi kawruhe kinarya, Ngupaya kasil lan melik. Lumrahnya jika begitu, Berobat setelah terluka, Biarpun punya guna-guna segudang, bila tak sesuai tujuannya, ilmunya hanya dipakai mencari nafkah dan pamrih. 92 Meloke rial arsa muluk, Sok ujare lir wali, Wola wali nora konkret, Anggepe pandhita luwih, Kaluwihane tan ana, Kabeh tandha tandha sepi. Baru terbantah jika keinginannya ria-bergaduk, Muluk-muluk bicaranya seperti penanggung jawab, Sering kali bukan terbukti, merasa diri pandita eksklusif, Kelebihannya enggak terserah, Semua bukti hening. 93 Kawruhe mung ana wuwus, Wuwuse gumaib gaib, Kasliring thithik tan kena, Mancereng alise gathik, Apa pandhita antiga, Kang mangkono iku kaki, Ilmunya sebatas mulut, Kata-katanya di menguap-gaibkan, Dibantah sedikit namun bukan mau, mata mencelangap alisnya menjadi satu, Apakah yang sebagaimana itu pandita palsu,..anakku ? 94 Mangka ta kang aran laku, Lakune ngelmu sejati, Tan dahwen pati openan, Tan panasten nora jail, Tan njurungi ing kahardan, Satu-satunya eneng mamrih ening. Sementara itu yang disebut βlakuβ, sarat menjalankan aji-aji sejati lain suka omong zero dan bukan suka memanfaatkan peristiwa-hal sepele yang bukan haknya, Tidak iri hati dan jail, Tidak melajukan suhu nafsu. Sebaliknya, bergaya antap agar menggapai keheningan jiwa. 95 Kaunanging budi luhung, Bangkit ajur ajer tungkai, Rupiah mangkono bakal cikal, Thukul wijining utami, Nadyan bener kawruhira, Mata uang ana kang nyulayani. Luhurnya budipekerti, pandai beradaptasi, anakku ! Demikian itulah sediakala mula, tumbuhnya jauhar keutamaan, Walaupun bermoral ilmumu, bila ada yang mempersoalkan.. 96 Tur kang nyulayani iku, Wus wruh rial kawruhe nempil, Nanging laire angalah, Katingala angemori, Mung ngenaki tyasing liyan, Aywa esak aywa serik. Walau basyar yang mempersoalkan itu, sudah diketahui ilmunya dangkal, tetapi secara lahir kita mengalah, berkesanlah persuasif, sekedar menyukakan hati khalayak lain. Jangan sakit hati dan kecemburuan. 97 Yeku ilapating wahyu, Yen yuwana ing salami, Marga wimbuh ing nugraha, Saking heb Kang mahasuci, Cinancang pucuking cipta, Nora ucul ucul kaki. Begitulah sarat turunnya wahyu, Bila teguh selamanya, dapat kian anugrahnya, dari sabda Sang pencipta Mahasuci, tergoda di ujung cipta, tiada terlepas-ampunan anakku. 98 Mangkono ingkang tinamtu, Tampa nugrahaning Widhi, Marma ta kulup den boleh, Mbusuki ujaring janmi, Pakoleh lair batinnya, Iyeku kepribadian premati. Begitulah nan digariskan, Untuk beruntung anugrah Tuhan. Makanya anakku, sedapatnya, kalian pura-pura menjadi manusia debil terhadap mulut orang tidak, nyaman lahir batinnya, yakni khuluk yang baik. 99 Pantes tinulat tinurut, Laladane mrih utami, Utama kembanging mulya, Kamulyan sukma dhiri, Ora ta yen ngeplekana, Lir leluhur nguni-uni. Pantas menjadi suri tauladan yang ditiru, Wahana hendaknya nasib mulia, kemuliaan jiwa raga. Walaupun tak persis, sebagai halnya karuhun habis. 100 Ananging ta kudu kudu, Sakadarira pribadi, Aywa dulu tutuladan, Lamun tan mangkono kaki, Yekti tuna ing tumitah, Poma kaestokna kaki. Tetapi harus giat berupaya, sesuai kemampuan diri, Jangan meneledorkan suri tauladan, Bila tak berbuat demikian itu anakku, pasti merugi seumpama manusia. Maka lakukanlah anakku ! Sawise maca lan nyinaoni cakepan pupuh kinanthi, ato minrengke lan niroke tembang tembang cilik kinanthi sakpada Vidio Urun rembuk lan pitakon ing kolom komentar. Maturnuwun.