Beranda/ Pakaian Adat Nusa Tenggara / Pakaian Adat Dari Nusa Tenggara Timur (NTT) - Cinta Indonesia / Penduduk suku boti terbagi menjadi boti dalam dan boti luar. Jun 27, 2021 · pesona gadis sumba di kampung adat prai ijing dalam balutan pakaian adat sumba barat. Tahun 2020, penduduk provinsi ini berjumlah 5.325.566 jiwa, dengan kepadatan SukuSumba sudah pasti mendiami Pulau Sumba yang pakaian adatnya bisa dibilang cukup sederhana. Hinggi adalah sebutan untuk baju pria, terdiri dari hinggi kawuru dan hinggi kombu. KharismaJokowi tak lepas dari pakaian yang dia kenakan. Perlu diketahui, setiap bagian dari dari pakaian adat Bajawa yang dikenakan Jokowi diperoleh dan dikerjakan SukuUmalulik (Rumah Pemali) Niba-niba yang terletak di Desa Builaran, Kecamatan Sasitamean, Kabupaten Malaka, Provinsi Nusa Tenggara Timur, meggelar ritual adat pada Selasa (28/9/2021). Ritual adat tersebut sebagai tradisi yang ditinggalkan oleh para leluhur yang kini masih dilestarikan oleh anak dan cucu sebagai salah satu tradisi wajib yang RoteNdao, Sabu Raijua, Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat Daya, Sumba Barat, Manggarai Timur, Manggarai dan Manggarai Barat. 2. dan Kampung Meglitik Namata. Didahului dengan pemakaian Pakaian Adat dan diterima dengan Pacuan Kuda dan Hod’Da, dilanjutkan dengan kunjungan melihat lokasi Tambak Garam Tradisional, dan penyulingan KabupatenSumba Timur sangat terkenal tenun ikatnya yang berupa hinggi (kain) dan lawu (sarung). Penggunaan pakaian adat lebih ditunjukkan oleh tingkat kepentingan Selainfungsi tersebut di atas, kain tenun mempunyai fungsi lain yang penting artinya dalam kehidupan masyarakat Sumba Timur. Fungsi-fungsi itu meliputi bidang religius, sosial dan ekonomi, yang antara lain digunakan sebagai busana adat, pembungkus jenazah, bekal kubur, tanda hubungan kekeluargaan, harta benda, alat tukar menukar, dan barang Priadan wanita mengenakan pakaian adat suku Rote. Henge’do, tradisi cium hidung di Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur. Seorang pendeta prajurit suku Atoni. (Inggris) Resort di Sumba Timur (Inggris) Trilateral Relationship - Kupang, Darwin dan Dilli Diarsipkan 2008-08-28 di Wayback Machine. BukuMuatan Lokal untuk kelas 4 Sekolah Dasar ini ditulis untuk memenuhi kebutuhan dan melengkapi para guru yang ada di Kabupaten Sumba Timur pada umumnya dalam memahami adat dan budaya serta kearifan lokal Letak: Sebelah Timur Pulau Sumatera ( 1ÂșLS-4ÂșLS dan 105Âș-109ÂșBT ) Tanda Plat Nomor Kendaraan : BN Luas Wilayah : Larantuka, Manggarai, Ngada, Sikka, Sumba, Sabu, Rote Pakaian Adat : Nusa Tenggara Timur Ti’langga merupakan aksesoris dari pakaian adat tradisional untuk pria Rote, Nusa Tenggara Timur. Untuk wanita, biasanya mengenakan 5gPv25. PAKAIAN TRADISIONAL SUKU SUMBA Pulau Sumba didiami oleh suku Sumba dan terbagi atas dua kabupaten, Sumba Barat dan Sumba Timur. Masyarakat Sumba cukup mampu mempertahankan kebudayaan aslinya di tengah-tengah arus pengaruh asing yang telah singgah di kepulauan Nusa Tenggara Timur sejak dahulu kala. Kepercayaan khas daerah Marapu, setengah leluhur, setengah dewa, masih amat hidup ditengah-tengah masyarakat Sumba ash. Marapu menjadi falsafah dasar bagi berbagai ungkapan budaya Sumba mulai dari upacara-upacara adat, rumahrumah ibadat umaratu rumah-rumah adat dan tata cara rancang bangunnya, ragam-ragam hias ukiran-ukiran dan tekstil sampai dengan pembuatan perangkat busana seperti kain-kain hinggi dan lau serta perlengkapan perhiasan dan pulau SumbaDi Sumba Timur strata sosial antara kaum bangsawan maramba, pemuka agama kabisu dan rakyat jelata ata masih berlaku, walaupun tidak setajam dimasa lalu dan jelas juga tidak pula tampak lagi secara nyata pada tata rias dan busananya. Dewasa ini perbedaan pada busana lebih ditunjukkan oleh tingkat kepentingan peristiwa seperti pada pesta-pesta adat, upacara-upacara perkawinan dan kematian dimana komponen-komponen busana yang dipakai adalah buatan baru. Sedangkan busana lama atau usang biasanya dipakai di rumah atau untuk bekerja sehari-hari. Bagian terpenting dari perangkat pakaian adat Sumba terletak pada penutup badan berupa lembar-lembar besar kain hinggi untuk pria dan lau untuk wanita. Dari kain-kain hinggi dan lau tersebut, yang terbuat dalam teknik tenun ikat dan pahikung serta aplikasi muti dan hada terungkap berbagai perlambangan dalam konteks sosial, priaSebagaimana telah disebutkan busana masyarakat Sumba dewasa ini cenderung lebih ditekankan pada tingkat kepentingan serta suasana lingkungan suatu kejadian daripada hirarki status sosial. Namun masih ada perbedaan-perbedaan kecil. Misalnya busana pria bangsawan biasanya terbuat dari kain-kain dan aksesoris yang lebih halus daripada kepunyaan rakyat jelata, tetapi komponen serta tampak keseluruhannya sama. Menilik hal-hal tersebut maka pembahasan busana pria sumba ditujukan pada pakaian tradisional yang dikenakan pada peristiwa besar, upacara, pesta-pesta dan sejenisnya. Karena pada saat-saat seperti itulah ia tampil dalam keadaan terbaiknya. Busana pria Sumba terdiri atas bagianbagian penutup kepala, penutup badan dan sejumlah penunjangnya berupa perhiasan dan senjata tajam. Sebagai penutup badan digunakan dua lembar hinggi yaitu hinggi kombu dan hinggi kaworu. Hinggi kombu dipakai pada pinggul dan diperkuat letaknya dengan sebuah ikat pinggang kulit yang lebar. Hinggi kaworu atau kadang-kadang juga hinggi raukadama digunakan sebagai pelengkap. Di kepala dililitkan tiara patang, sejenis penutup kepala dengan lilitan dan ikatan tertentu yang menampilkan jambul. Jambul inilah dapat diletakkan di depan, samping kiri atau samping kanan sesuai dengan maksud perlambang yang ingin dikemukakan. Jambul di depan misalnya melambangkan kebijaksanaan dan kemandirian. Hinggi dan tiara terbuat dari tenunan dalam teknik ikat dan pahikung. Khususnya yang terbuat dengan teknik pahikung disebut tiara pahudu. Ragam-ragam hias yang terdapat pada hinggi dan tiara terutama berkaitan dengan alam lingkungan mahluk hidup seperti abstraksi manusia tengkorak, udang, ayam, ular, naga, buaya, kuda, ikan, penyu, cumi-cumi, rusa, burung, kerbau sampai dengan corak-corak yang dipengaruhi oleh kebudayaan asing Cina dan Belanda yakni naga, bendera tiga warna, mahkota dan singa. Kesemuanya memiliki arti serta perlambang yang berangkat dari mitologi, alam pikiran serta kepercayaan mendalam terhadap marapu. Warna hinggi juga mencerminkan nilai estetis dan status sosial. Hinggi terbaik adalah hinggi kombu kemudian hinggi kawaru lalu hinggi raukadana dan terakhir adalah hinggi panda paingu. Selanjutnya busana pria Sumba dilengkapi dengan sebilah kabiala yang disisipkan pada sebelah kiri ikat pinggang. Sedangkan pergelangan tangan kiri dipakai kanatar dan mutisalak. Secara tradisional busana pria tidak menggunakan alas kaki, namun dewasa ini perlengkapan tersebut semakin banyak digunakan khususnya didearah perkotaan. Kabiala adalah lambang kejantanan, muti salak menyatakan kemampuan ekonomi serta tingkat sosial. Demikian pula halnya perhiasan-perhiasan lainnya. Secara menyeluruh hiasan dan penunjang busana ini merupakan simbol kearifan, keperkasaan serta budi baik Adat WanitaPakaian pesta dan upacara wanita Sumba Timur selalu melibatkan pilihan beberapa kain yang diberi nama sesuai dengan teknik pembuatannya seperti lau kaworu, lau pahudu, lau mutikau dan lau pahudu kiku. Kain-kain tersebut dikenakan sebagai sarung setinggi dada lau pahudu kiku dengan bagian bahu tertutup taba huku yang sewarna dengan sarung. Di kepala terikat tiara berwarna polos yang dilengkapi dengan hiduhai atau hai kara. Pada dahi disematkan perhiasan logam emas atau sepuhan yaitu maraga, sedangkan di telinga tergantung mamuli perhiasan berupa kalung-kalung keemasan juga digunakan pada sekitar leher, menjurai ke bagian dada. Halo Sobat MI! Kali ini, Mengenal Indonesia akan membahas pakaian adat Nusa Tenggara Timur atau biasa disingkat NTT. Provinsi yang beribu kota di Kupang ini memiliki jumlah penduduk sekitar 5,3 juta pada tahun kurang lebih pulau yang berada di Nusa Tenggara Timur. Tiga pulau utama di NTT adalah Pulau Flores, Pulau Sumba dan Pulau Timor bagian barat.Terdapat beberapa suku utama yang mendiami provinsi NTT. Diantaranya adalah suku Sumba, suku Rote, suku Manggarai, suku Lio, suku Dawan, suku Helong, dan suku kelompok suku tersebut memiliki pakaian adatnya tersendiri berdasarkan kepercayaan dan tradisi yang dibawa sejak zaman leluhur. Mereka menggunakan pakaian adatnya untuk acara-acara penting, seperti apa sih, pakaian adat Nusa Tenggara Timur? Lalu, apa keunikan dari setiap pakaian adat NTT? Yuk, simak penjelasannya!1. Pakaian Adat Suku SumbaSumber InstagramSuku Sumba merupakan salah satu etnis utama di NTT. Mereka umumnya tinggal di pulau Sumba yang secara administrasi terbagi menjadi 4 kabupaten. Pakaian adat Nusa Tenggara Timur untuk laki-laki Sumba terdiri dari dua lembar hinggi, hinggi kombu dan hinggi kawuru, yang menutupi badan dan dibuat dengan teknik tenun ikat dan pahikung. Hinggi ombu dipakai pada pinggul dan diperkuat letaknya dengan sebuah ikat pinggang kulit yang lebar, sedangkan hinggi kawuru digunakan sebagai pelengkap. Tiara patang juga dikenakan di sekitar kepala dan dapat ditempatkan pada posisi yang berbeda untuk menyampaikan berbagai makna. Laki-laki juga mengenakan kabilaa dan menghiasi pergelangan tangan kiri mereka dengan kanatar dan mutisalak, kabilaa melambangkan kejantanan dan muti salak melambangkan kemampuan ekonomi dan status sosial. Item pakaian ini adalah simbol kebijaksanaan, kekuatan, dan kebaikan adat NTT untuk wanita Sumba Timur meliputi beberapa jenis kain yang diberi nama sesuai dengan teknik pembuatannya, seperti lau kawuru, lau pahudu, lau mutikau, dan lau pahudu kiku. Kain ini dikenakan sebagai sarung setinggi dada, dengan bahu tertutup taba huku dengan warna yang sama. Tiara berwarna polos diikatkan di kepala, dilengkapi tiduhai atau hai kara, sedangkan perhiasan logam seperti maraga disematkan di dahi. Perhiasan mamuli berupa kalung emas dikalungkan di leher dan digantung hingga ke Pakaian Adat Suku RoteSumber OramiSuku Rote merupakan salah satu etnis utama di NTT. Mereka umumnya tinggal di Pulau Rote yang secara geografis merupakan wilayah paling ujung selatan Indonesia. Selain itu, populasi Suku Rote juga menyebar ke pulau-pulau lain di NTT, seperti Pulau Timor, Pulau Ndao, dan Pulau adat Nusa Tenggara Timur dari suku Rote dikenal dengan Tenun Ikat, terbuat dari kain tenun yang sering dipasangkan dengan kemeja putih panjang dan sarung tenun ikat berwarna gelap. Selendang kain dengan pola yang sama dengan kain di bagian bawahan dikenakan sebagai penutup dada untuk melengkapi pria dari pakaian adat NTT dari Rote ini dilengkapi juga oleh topi yang terbuat dari daun lontar kering bernama ti’i langga. Bentuknya menyerupai topi sombrero dari negara Meksiko. Topi ini menyadi simbol kewibawaan yang dimiliki oleh kaum pria Suku itu, aksesoris wanita dari pakaian adat NTT Suku Rote ini berupa bulo malik yang berbentuk seperti bulan sabit dan dipakai di bagian kepala. Wanita Rote juga mengenakan kalung di leher yang bernama Pakaian Adat Suku ManggaraiSumber GramhoKelompok Suku Manggarai umumnya mendiami bagian barat pulau Flores di provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Pakaian adat Nusa Tenggara Timur pria dari Suku Manggarai umumnya terdiri dari kemeja lengan panjang berwarna putih. Pakaian tersebut dipadukan dengan selendang dan sarung dengan motif kain songket. Terdapat aksesoris kepala yang dinamakan Sapu sebagai pelengkap. Tidak jauh berbeda dengan busana pria, Pakaian adat NTT perempuan dari Suku Manggarai menggunakan kebaya yang dipadukan dengan kain songket sebagai pakaian adatnya. Kebaya tersebut dilengkapi selendang kain dan hiasan kepala bernama Pakaian Adat Suku LioSumber InstagramSuku Lio merupakan suku bangsa terbesar dan tertua di Pulau Flores. Populasinya sebagian besar mendiami Kabupaten Ende dan Kabupaten Sikka di Pulau Flores, adat Nusa Tenggara Timur milik Suku Lio bernama Ikat Patola, yaitu kain tenun yang digunakan secara khusus untuk kepala suku dan warga kerajaan. Ikat Patola memiliki berbagai macam motif, contohnya biawak, dahan, dan manusia. Bagi wanita bangsawan, biasanya ditambahkan tambahan hiasan berupa manik-manik dan kulit JUGA Mengenal Pakaian Adat Madura Pria Dan Wanita Lengkap Dengan Ciri Khasnya5. Pakaian Adat Suku DawanSumber Dawan yang dikenal juga sebagai Suku Atoni merupakan salah satu etnis di NTT yang mendiami Pulau Timor bagian barat. Pakaian adat Nusa Tenggara Timur dari Suku Dawan memiliki nama Baju Amarasi. Bagi pria, pakaian adat NTT dari Suku Dawan ini terdiri dari baju bodo, yang dipadukan dengan sarung tenun. Terdapat pula aksesoris pelengkap seperti kalung habas berbandung gong, mutik salak, gelang timor, dan ikat wanita dari Suku Dawan menggunakan kebaya, yang dipadukan menggunakan sarung tenun dan selendang penutup dada. Dilengkapi pula aksesoris seperti kalung mutik salak, tusuk konde, sisir emas, dan gelang kepala Pakaian Adat Suku HelongSumber Helong merupakan suku bangsa yang berada di Pulau Timor. Populasinya sebagian besar mendiami Kabupaten Helong memiliki pakaian tradisional yang berbeda untuk pria dan wanita. Wanita mengenakan kombinasi atasan kebaya atau kemben, yang diikat menggunakan sabuk berwarna emas. Terdapat pula hiasan kepala berbentuk bulan sabit dan leher berbentuk bulan sebagai busana pria dari Suku Helong mengenakan atasan baju bodo dengan selimut lebar di bawahnya. Aksesoris lainnya terdiri dari ikat kepala serta perhiasan leher yang disebut habas. Pakaian tersebut mewakili identitas budaya suku Pakaian Adat Suku SabuSumber Sabu merupakan suku bangsa yang mendiami pulau Sawu dan pulau Raijua di Nusa Tenggara pria biasanya berupa kemeja putih lengan panjang yang dipasangkan dengan bagian bawah sarung katun, serta selendang yang disampirkan di bahu. Terdapat pula aksesoris tambahan seperti ikat kepala dari emas berupa mahkota bertiang tiga, kalung kulit kayu muti, ikat pinggang berkantong, perhiasan leher atau habas, dan gelang emas. Sedangkan busana wanita lebih sederhana, terdiri dari kebaya dengan dua balutan kain tenun berupa sarung dengan ikat pinggang yang disebut pending. BACA JUGA 3 Jenis Pakaian Adat Bali Berdasarkan Tingkatannya, Ciri Khas Dan Makna FilosofinyaJangan lupa untuk terus membaca postingan kita ya Sobat MI. Caranya mudah kok. Dengan klik disini. Rasakan manfaat, keasikan, dan keseruan mengenal indonesia melalui postingan di website dan akun social media mengenal Posts Pakaian Adat Nusa Tenggara Timur Lengkap, Gambar dan Penjelasannya - Secara umum pakaian adat Nusa Tenggara Timur menonjol pada perangkat kain-kain tenunnya yang khas. Selain itu, kekhasan pakaian adat Nusa Tenggara Timur terlihat pula pada perhaisan perlengkapan pakaian dari logam, bulu unggas, dan kain-kain batik yang ditampilkan dengan cara-cara yang unik. Dari keanekaragaman pakaian adat yang memiliki perbedaan latar belakang, dipaparkan tiga gaya yang dianggap dapat mewakili citra daerah ini, yaitu pakaian adat suku bangsa Sikka dari Flores, suku bangsa Sumba dari Sumba Timur, dan suku bangsa Amarasi dari Kabupaten Kupang , Timor. Pakaian Adat Suku Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur Masyarakat Sikka atau suku bangsa Sikka, mendiami daerah Kab. Sikka di Pulau Flores dengan kota terbesar Maumere. Kebudayaan masyarakat Sikka banyak dipengaruhi oleh budaya asing, seperti Bugis, Cina, Portugis, Belanda, Arab, dan India. Pengaruh Portugis dan Belanda tampak pada tata busana barat yang dewasa ini sudah menjadi pakaian sehari-hari. Pengaruh India muncul pada hasil tenunan, yaitu pada pembagian bidang-bidang dan corak yang diilhami oleh kain patola. Meskipun demikian, masyarakat Sikka tetap dapat mempertahankan ungkapan budaya tradisionalnya lewat pakaian serta tata riasnya. Sumber Selayang Pandang Nusa Tenggara Timur Gandes Cukat Permaty, S. Pd Pakaian tradisional pria secara umum terdiri atas penutup badan dan penutup kepala. Penutup badan terdiri atas labu bertangan panjang, biasanya berwarna putih mirip kemeja gaya barat. Selembar lensu sembar diselendangkan pada dada, bercorak flora atau fauna dalam teknik ikat lungsi. Pada bagian pinggang dikenakan utan atau utan werung, yaitu sejenis sarung berwarna gelap, bergaris biru melintang. Tata warna kain Sikka umumnya tampil dalam nada-nadan gelap seperti hitam atau biru tua dengan ragi yang lebih cerah berwarna putih, kuning atau merah. Istilah untuk sarung selain utan adalah lipa. Destar adalah tutup kepala pria yang terbuat dari kain batik soga dan dikenakan dengan pola ikatan tertentu sehingga ujung-ujungnya turun menempel pada kedua sisi wajah dekat telinga. Pakaian Adat wanita terdiri atas penutup badan berupa labuliman berun, berbentuk mirip kemeja berlengan panjang. Labu ini biasanya terbuat dari sutra dan kain yang bagus mutunya. Model labu ini terbuka sedikit pada pangkal leher guna memudahkan pemakaian. Di atas labu dikenakan dong, sejenis selendang yang diselempangkan melintang dada. Selain itu, kaum wanita juga memakai sarung wanita, utan lewak, dihias dengan ragam flora dan fauna dalam lajur-lajur garis. Utan lewak adalah kain tiga lembar, berwarna dasar gelap dengan paduan antara warna merah, cokelat, putih, biru, dan kuning secara melintang. Warna-warna tersebut melambangkan berbagai suasana hati atau kekuatan-kekuatan magis. Misalnya hitam untuk melayat, merah, cokelat melambangkan keagungan dan status sosial yang tinggi. Cara mengenakan utan adalah dengan menyampirkan sebagian pinggir kain di atas bahu dengan melintangkan tangan kanan di bawah dada seperti hendak menjepit kain. Hiasan kepala tersemat pada sanggul atau konde dalam bentuk tusuk konde. Tusuk konde biasanya terbuat dari ukiran keemasan. Pada pergelangan tengan dipakai kalar yang terbuat dari gading dan perak. Penggunaannya disesuaikan dengan suasana peristiwa seperti upacara-upacara atau pesta-pesta adat. Jumla kalar gading dan perak biasanya genap, yaitu dua atau empat gading dengan dua perak pada setiap tangan. perhiasan lainnya adalah kila yang tergantung pada telinga. Pakaian Adat Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur Suku bangsa Sumba mendiami Pulau Sumba dan terbagi atas dua Kabupaten, yaitu Sumba Barat dan Sumba Timur. Kepercayaan khas daerah Marapu, setengah leluhur, setengah dewa, masih sangat diyakini masyarakat Sumba asli. Marapu menjadi falsafah dasar bagi berbagai ungkapan budaya Sumba mulai dari upacara adat, rumah-rumah ibadah umaratu, rumah-rumah adat dan tata cara rancang bangunnya. ragam hias ukir-ukiran dan tekstil sampai dengan pembuatan perangkat pakaian seperti kain-kain hinggi dan lau serta perlengkapan perhiasan dan senjata. Sumber Selayang Pandang Nusa Tenggara Timur Gandes Cukat Permaty, S. Pd Di Sumba Timur strata antara kaum bangsawan maramba, pemuka agama kabisu, dan rakyat jelata ata masih berlaku, meskipun tidak setajam dulu. Perbedaan strata sosial ini juga tidak tampak secara nyata pada tata rias dan pakaian adatnya. Perangkat pakaian adat Sumba terletak pada penutup badan berupa lembar-lembar besar kain hinggi untuk pria dan lau untuk wanita. Dari kain-kain hinggi dan lau tersebut mengungkapkan berbagai lambang dalam konteks sosial, ekonomi serta religi suku Sumba. Kain hinggi dan lau tersebut terbuat dalam teknik tenun ikat dan pahikung serta aplikasi muti dan hada. Pakaian adat masyarakat Sumba lebih cenderung ditekankan pada ringkat kepentingan serta suasana lingkungan suatu kejadian daripada hierarki status sosialnya. Pakaian kaum pria sumba terdiri atas bagian-bagian penutup kepala, penutup badan dan sejumlah penunjang lainnya berupa perhiasan dan senjata tajam. Sebagai penutup badan digunakan dua lembar hinggi, yaitu hinggi kombu dan hinggi kowaru. Hinggi kombu dipakai pada pinggul dan diperkuat letaknya dengan sebuah ikat pinggang kulit yang lebar. Hinggi kowaru atau terkadang juga disebut hinggi raukadama digunakan sebagai pelengkap. Di kepala dililitkan tiara patang, sejenis tutup kepala dengan lilitan dan ikatan tertentu yang menampilkan jambul. Jambul ini dapat diletakkan di depan, samping kiri, atau samping kanan sesuai dengan maksud lambangnya. Jambul di depan melambangkan kebijaksanaan dan kemandirian. Hinggi dan tiara terbuat dari tenunan dalam teknik ikat dan pahikung. khusus yang terbuat dengan teknik pahikung disebuttiara pahudu. Hiasan-hiasan yang terdapat pada hinggi dan tiara terutama berkaitan dengan alam lingkungan makhluk hidup. Warna hinggi juga mencerminkan nilai estetis dan status sosial. Hinggi terbaik adalah hinggi kombu kemudian hinggi kowaru, hinggi raukadana, dan terakhir adalah hinggi panda paingu. Pakaian pria Sumba dilengkapi dengan sebilah kabiala yang disisipkan pada kiri ikat pinggang. Pada pergelangan tangan kiri dipakai kanatar dan mutisalak. kabiala adalah lambang kejantanan, sedangkan mutisalak menyatakan kemampuan ekonomi serta tingkat sosial. Secara menyeluruh hiasan dan penunjang pakaian ini merupakan simbol kearifan Ada beberapa kain yang digunakan sebagai pakaian pesta dan upacara wanita Sumba Timur, seperti Lau kowaru, Lau pahudu, Lau mutikau, dan Lau pahudu kiku. Kain-kain tersebut dipakai sebagai sarung setinggi dada lau pahudu kiku dengan bagian bahu tertutup toba huku yang sewarna dengan sarung. Untuk bagian kepala wanita Sumba Timur memakai tiara berwarna polos yang dilengkapi dengan hiduhai dan hai kara. Pada dahi disematkan perhiasan logam emas atau sepuhan yaitu maraga. Kemudian di telinga tergantung mamuli perhiasan berupa kalung-kalung keemasan. Di bagian leher juga dikenakan kalung-kalung keemasan yang menjurai ke bagian dada. Pakaian Adat Amarasi, Timor, Nusa Tenggara Timur Secara administratif Amarasi termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Kupang. Meskipun pengaruh-pengaruh asing masuk ke dalam wilayah ini, tetapi masyarakat Amarasi masih memegang tradisi untuk mengungkapkan budaya asli mereka. Hal ini ditunjukkan dengan adanya bentuk-bentuk kepercayaan lokal yang mewarnai kehidupan sehari-hari, seperti ritus-ritus penghormatan Usi Neno, yang dianggap sebagai wujud tertinggi penguasa jagad raya, pencipta makhluk hidup sumber segala yang ada. Dalam hal berpakaian, tradisi kebudayaan asli juga masih mempengaruhi tata cara berpakaian, terutama dalam pakaian pesta adat atau upacara-upacara penting. Secara umum pakaian adat upacara Amarasi didominasi oleh kain-kain tenunan dalam teknik futus dan sotis yang dipadu dalam warna-warna putih, cokelat, biru, merah bata. Kain-kain tersebut kemudian dipadu dengan berbagai aksesoris di kepala, telinga, tangan dan pinggang. Sumber Selayang Pandang Nusa Tenggara Timur Gandes Cukat Permaty, S. Pd Pada dasarnya pakaian adat pria Amarasi sama dengan daerah lain di Nusa Tenggara Timur, yaitu kain penutup badan yang terdiri atas beti atau taimuti dan po'uk. Akan tetapi, pakaian pria Amarasi mempunyai cork yang khas, yaitu adanya dominasi warna-warna cokelat dengan bidang tengah berwarna putih di bagian bet. Kemudian, po'uk bercorak garis-garis memanjang yang dipadu dalam warna-warna jingga, merah bata, putih, dan biru. Di bagian kepala dikenakan pilu dari batik, sedangkan di bagian leher dikenakan kalung yang terbuat dari logam yang berhiaskan iteke, yaitu logam berukir berbentuk lingkaran. Sepertihalnya di daerah Nusa Tenggara Timur lainnya, pria Amarasi juga memakai kapisak atau aluk yang terbuat dari anyaman-anyaman daun atau kain persegi empat dengan corak geometris dan multi sebagai hiasannya. Oleh masyarakat setempat pakaian dan perhiasan dan perlengkapan pakaian tersebut dianggap dapat memberikan sifat keagungan, kejantanan serta kesucian bagi penyandangnya. Pakaian utama wanita Amarasi terdiri atas dua macam kain tenunan. Kain pertama adalah Tais dan Tarunat yang dipasang setinggi dada hingga mata kaki. Kain ini bercorak garis-garis sempit berwarna jingga, kuning, biru tua dan dipadukan dengan corak-corak ikat putih berlatar hitam/ biru tua. Sementara itu kain kedua berupa selempang yang terikat di depan dada berbentuk huruf V dengan kedua ujungnya terletak di kedua bahu bagian belakang. Di bagian kepala dikenakan seperangkat perhiasan. Rambut yang disanggul dihiasi dengan kili noni dan tusuk konde. Di dahi dikenakan pato eban yaitu hiasan logam berukir yang berbentuk bulan sabit. Kedua telinga dihiasi falo noni. Kemudian dikenakan pula kalung berbentuk bulat terbuat dari logam emas, perak, atau sepuhannya yang disebut dengan noni bena. Pergelangan tangan dihiasi dengan niti keke, sedangkan bagian pinggang dikenakan futi noni. Demikian pembahasan tentang "Pakaian Adat Nusa Tenggara Timur Lengkap, Gambar dan Penjelasannya" yang dapat kami sampaikan. Artikel ini dikutip dari buku "Selayang Pandang Nusa Tenggara Timur Gandes Cukat Permaty, S. Pd". Baca juga artikel kebudayaan indonesia menarik lainnya di situs